Rukun Iman, Itulah yang sering dipelajari di sekolah ataupun madrasah dari masa kecil dulu, dan masalah ini tidak pernah boleh untuk ditinggalkan. Namun apakah kita memahami secara detail makna dan maksud dari pada ke 6 rukum iman yang telah kita pelajari itu. Tulisan dibawah ini sekilah penjelasan tentang Rukun Iman yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam salah satu kitabnya "Al-Aqidah Al Wasithiyah" :
1. Iman Kepada Allah Ta'ala Iman kepada Allah
adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah adalah Rabb dan Raja segala
sesuatu; Dialah Yang Mencipta, Yang Memberi Rezki, Yang Menghidupkan,
dan Yang Mematikan, hanya Dia yang berhak diibadahi. Kepasrahan,
kerendahan diri, ketundukan, dan segala jenis ibadah tidak boleh
diberikan kepada selain-Nya; Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan,
keagungan, dan kemuliaan; serta Dia bersih dari segala cacat dan
kekurangan.[1]
2. Iman Kepada Para Malaikat Allah Iman kepada malaikat adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah memiliki malaikat-malaikat, yang diciptakan dari cahaya. Mereka, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah, adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan. Apapun yang diperintahkan kepada mereka, mereka laksanakan. Mereka bertasbih siang dan malam tanpa berhenti. Mereka melaksanakan tugas masing-masing sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat mutawatir dari nash-nash Al-Qur'an maupun As-Sunnah. Jadi, setiap gerakan di langit dan bumi, berasal dari para malaikat yang ditugasi di sana, sebagai pelaksanaan perintah Allah Azza wa Jalla. Maka, wajib mengimani secara tafshil, (terperinci), para malaikat yang namanya disebutkan oleh Allah, adapun yang belum disebutkan namanya, wajib mengimani mereka secara ijmal (global).[2]
2. Iman Kepada Para Malaikat Allah Iman kepada malaikat adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah memiliki malaikat-malaikat, yang diciptakan dari cahaya. Mereka, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah, adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan. Apapun yang diperintahkan kepada mereka, mereka laksanakan. Mereka bertasbih siang dan malam tanpa berhenti. Mereka melaksanakan tugas masing-masing sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat mutawatir dari nash-nash Al-Qur'an maupun As-Sunnah. Jadi, setiap gerakan di langit dan bumi, berasal dari para malaikat yang ditugasi di sana, sebagai pelaksanaan perintah Allah Azza wa Jalla. Maka, wajib mengimani secara tafshil, (terperinci), para malaikat yang namanya disebutkan oleh Allah, adapun yang belum disebutkan namanya, wajib mengimani mereka secara ijmal (global).[2]
3. Iman Kepada Kitab-kitab Maksudnya adalah, meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa Allah memiliki kitab-kitab yang diturunkan-Nya kepada para nabi dan rasul-Nya; yang benar-benar merupakan Kalam, (firman, ucapan),-Nya. la adalah cahaya dan petunjuk. Apa yang dikandungnya adalah benar. Tidak ada yang mengetahui jumlahnya selain Allah. Wajib beriman secara ijmal, kecuali yang telah disebutkan namanya oleh Allah, maka wajib untuk mengimaninya secara tafshil, yaitu: Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur'an. Selain wajib mengimani bahwa Al-Qur'an diturunkan dari sisi Allah, wajib pula mengimani bahwa Allah telah mengucapkannya sebagaimana Dia telah mengucapkan seluruh kitab lain yang diturunkan. Wajib pula melaksanakan berbagai perintah dan kewajiban serta menjauhi berbagai larangan yang terdapat di dalamnya. Al-Qur'an merupakan tolok ukur kebenaran kitab-kitab terdahulu. Hanya Al-Qur'an saja yang dijaga oleh Allah dari pergantian dan perubahan. Al-Qur'an adalah Kalam Allah yang diturunkan, dan bukan makhluk, yang berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.[3]
4. Iman Kepada Para Rasul Iman kepada rasul-rasul
adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah telah mengutus para rasul untuk
mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya. Kebijaksanaan-Nya
telah menetapkan bahwa Dia mengutus para rasul itu kepada manusia untuk
memberi kabar gembira dan ancaman kepada mereka. Maka, wajib beriman
kepada semua rasul secara ijmal (global) sebagaimana wajib pula beriman
secara tafshil (rinci) kepada siapa di antara mereka yang disebut
namanya oleh Allah, yaitu 25 di antara mereka yang disebutkan oleh Allah
dalam Al-Qur'an. Wajib pula beriman bahwa Allah telah mengutus
rasul-rasul dan nabi-nabi selain mereka, yang jumlahnya tidak diketahui
oleh selain Allah, dan tidak ada yang mengetahui nama-nama mereka selain
Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Wajib pula beriman bahwa
Muhammad SAW. adalah yang paling mulia dan penutup para nabi dan rasul,
risalahnya meliputi bangsa jin dan manusia, serta tidak ada nabi
setelahnya.[4]
5. Iman Kepada Kebangkitan Setelah Mati Iman kepada kebangkitan setelah mati adalah keyakinan yang kuat tentang adanya negeri akhirat. Di negeri itu Allah akan membalas kebaikan orang-orang yang berbuat baik dan kejahatan orang-orang yang berbuat jahat. Allah mengampuni dosa apapun selain syirik, jika Dia menghendaki. Pengertian al-ba'ts, (kebangkitan) menurut syar'i adalah dipulihkannya badan dan dimasukkannya kembali nyawa ke dalamnya, sehingga manusia keluar dari kubur seperti belalang-belalang yang bertebaran dalam keadaan hidup dan bersegera mendatangi penyeru. Kita memohon ampunan dan kesejahteraan kepada Allah, baik di dunia maupun di akhirat.[5]
5. Iman Kepada Kebangkitan Setelah Mati Iman kepada kebangkitan setelah mati adalah keyakinan yang kuat tentang adanya negeri akhirat. Di negeri itu Allah akan membalas kebaikan orang-orang yang berbuat baik dan kejahatan orang-orang yang berbuat jahat. Allah mengampuni dosa apapun selain syirik, jika Dia menghendaki. Pengertian al-ba'ts, (kebangkitan) menurut syar'i adalah dipulihkannya badan dan dimasukkannya kembali nyawa ke dalamnya, sehingga manusia keluar dari kubur seperti belalang-belalang yang bertebaran dalam keadaan hidup dan bersegera mendatangi penyeru. Kita memohon ampunan dan kesejahteraan kepada Allah, baik di dunia maupun di akhirat.[5]
6. Iman Kepada Takdir Yang Baik Maupun Yang Buruk Dari Allah Ta'ala.
Iman kepada takdir adalah meyakini secara sungguh-sungguh bahwa segala
kebaikan dan keburukan itu terjadi karena takdir Allah. Allah
Subhanallahu wa ta'ala telah mengetahui kadar dan waktu terjadinya
segala sesuatu sejak zaman azali, sebelum menciptakan dan mengadakannya
dengan kekuasaan dan kehendak-Nya, sesuai dengan apa yang telah
diketahui-Nya itu. Allah telah menulisnya pula di Lauh Mahfuzh sebelum
menciptakannya.[6]
Banyak
sekali dalil mengenai keenam rukun Iman ini, baik dari Al-Qur'an maupun
As-Sunnah. Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala :
لَّيْسَ
الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ
"Artinya
: Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu
kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada
Allah, Hari Kemudian, Malaikat-malaikat, dan Nabi-nabi..."[Al-Baqarah :
177]
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
"Artinya : Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar (ukuran)."[Al-Qamar : 49]
Juga sabda Nabi Sallallahu 'alaihi wassalam dalam hadits Jibril:
"Artinya : Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabNya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir. Dan engkau beriman kepada takdir Allah, baik maupun yang buruk."[7]
"Artinya : Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabNya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir. Dan engkau beriman kepada takdir Allah, baik maupun yang buruk."[7]
[1].Ar-Raudah An-Naiyah Syarh
Al-Aqidah Al-Washithiyah, hal. 15; Al-Ajwibah Al-Ushuliyyah, hal. 16;
dan At-Thahawiyah, hal. 335. Iman kepada Allah Ta'ala meliputi empat
perkara : (1). Iman kepada wujud-Nya Yang Maha Suci. (2). Iman kepada
Rububiyyah-Nya.(3). Iman kepada Uluhiyyah-Nya.(4). Iman kepada Asma dan
sifat-sifat-Nya. [2]. Ar-Raudhah An-Nadiyah, hal. 16 dan Al-Aqidah
At-Thahawiyyah, hal. 350. [3]. Al-Ajwibah Al-Ushuliyah, hal. 16 dan
17. [4]. Lihat Al-Kawasyif Al-Jaliyah An Ma'ani Al-Wasithiyah, hal 66.
[5]. Ibid [6]. Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Muhammad Khalil Al-Haras,
hal. 19. [7]. Dikeluarkan oleh Muslim, I/37 no.8


