Jadikan Sholat Sebagai Kesenangan Hati
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga menjadikan shalat sebagai kesenangan hati. Begitu pula ibadah-ibadah fardhu lainnya, yang merupakan sebab kebahagiaan hamba dan perlindungannya dari segala sesuatu yang ditakutinya, di dunia maupun di akhirat. Semua keadaan hamba di mana pun dia berada, di tengah keluarga, di masjid, di kebun, di tempat kerja, di medan peperangan, semua untuk kepentingan dirinya. Gerak dan diamnya merupakan ibadah dan usaha untuk bertemu Allah, agar dia dalam keadaan ridha dan diridhai, agar dia menjadi golongan Ibadurrahman.
Begitulah yang dikerjakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, para shahabat dan siapa pun yang mengikuti mereka dari orang-orang salaf. Tapi kemudian menyusup hal-hal batil, bid'ah dan khurafat serta hiasan hiasan yang dibaguskan syetan yang berupa jin dan manusia. Maka banyak orang yang berubah, sehingga amal pun banyak yang berubah pula. Mereka meyakini bahwa yang disebut dzikir adalah duduk menyendiri atau berkerumun sambil menghitung sekian ratus atau sekian ribu kalimat la ilaha illallah, mendirikan shalat seribu rakaat, membaca Al-Qur'an seperti air yang mengalir tanpa memahami maknanya. Tindakan seperti ini menjadi ibadah hanya sekedar bentuk dan rupa yang mati.
Hal ini berbeda jauh dengan keadaan para shahabat, seperti yang dikatakan Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu, "Kami tidak pernah melewati satu ayat pun sehingga kami mewujudkannya dalam bentuk amalan."

About the Author

0 comments: